Mil Kedua (Second Mile) by Rudy Langitan

Mil Kedua (Second Mile) by Rudy Langitan

”… berjalanlah bersama dia sejauh dua mil (Second Mile).”

Mil kedua (2nd mile) adalah mil ekstra, mil di mana kita memberikan nilai yang lebih bagi pekerjaan, kewajiban atau tanggung jawab kita. Inilah yang saya sebut dengan mil excellence atau mil ekstra. Dalam mil ini kita melakukan segala sesuatu di atas rata-rata yang dilakukan orang pada umumnya. Dan, kita melakukannya tanpa paksaan atau tuntutan, melainkan dengan motivasi memberikan yang terbaik pada  sesama  manusia dan Tuhan.

Mil kedua (2nd Mile) adalah bagaimana kita memiliki cara-cara yang berkualitas ekstra sehingga kita mampu menjadi pembuat sejarah di generasi ini, dengan memandang dan menilai sesuatu dengan cara yang berbeda. Di mil kedua kita akan memiliki ukuran-ukuran penilaian, cara pandang dan motivasi yang sangat berbeda dari orang-orang biasa. Dalam kehidupan, kita memang biasa berjalan dalam mil pertama yang merupakan mil yang biasa kita tempuh. Namun, dunia ini menuntut kita melakukan segala sesuatu lebih dari biasanya. Mil kedua adalah titik di mana kita melakukan sesuatu lebih dari sekadar melakukan: lebih dari sekadar bekerja, lebih dari sekadar sekolah, lebih dari sekadar berkarier, lebih dari sekadar berkeluarga, lebih dari sekadar memiliki, lebih dari sekadar memberi, lebih dari sekadar percaya, lebih dari sekadar mengasihi, dan lebih dari sekadar hidup.”

Namun, mil kedua juga merupakan mil di mana kita bekerja bukan hanya untuk menyelesaikan, tetapi menikmatinya. Fokus buku ini adalah bagaimana kita dapat mencapai mil kedua bagi setiap tugas, tanggung jawab, atau pekerjaan kita dengan tetap tidak kehilangan ”kenikmatannya”. Dan, bagaimana kita melebihi batas-batas aman dan nyaman kehidupan kita serta menceburkan diri kepada hal-hal yang menantang dengan berani ambil risiko dan berani gagal dengan tanpa rasa menyesal.  Pada mil kedua ini kita akan lebih produktif dan memberi hasil yang bernilai.

Saya senang menyebut mil kedua ini dengan mil cinta kasih. Maksudnya kita menjalani segala sesuatu tidak dengan ketakutan, tetapi cinta kasih yang besar, khususnya cinta kasih kepada Tuhan. Cinta kasih adalah sebuah hukum kehidupan yang terbesar, lebih dari hukum tabur-tuai (hukum sebab akibat), hukum hak dan kewajiban. Cinta kasih berasal dari Sang Pencipta. Dan, segala sesuatu di dunia ini diciptakan berdasarkan cinta kasih. Dengan cinta kasih kita akan menemukan jalan keluar, keyakinan, kekuatan, hasrat, keberanian, ketekunan, integritas, sikap positif, dan pengorbanan  yang besar. Dengan cinta kasih kita juga mampu bangkit dari kegagalan dan keterpurukan untuk menjadi pemenang. Dengan cinta kasih kita mampu menghargai dan bertanggung jawab terhadap segala sesuatu. Cinta kasih adalah sebuah hukum spiritual. Cintai pekerjaan dan tanggung jawabmu hari ini maka Anda akan menemukan jalan keluar dari setiap masalah dan tantangan yang dihadapi. Karena ketika cinta kasih hadir, ia akan memberikan keyakinan dan harapan hadir bersamanya. Tukul Arwana dalam acara show kondangnya sering berkata, ”Cintailah pekerjaan dan tanggung jawab Anda maka pekerjaan itu akan mencintai Anda.” Melakukan lebih dari sekadar bekerja adalah jurus sukses Tukul Arwana yang membuat acaranya memiliki rating tinggi serta tetap diminati pemirsa di rumah sampai hari ini.

Jhon Ruskin menyatakan, ”Ketika cinta dan kemampuan bekerja sama, sebuah maha karya akan hadir.” Semua karya besar yang pernah, sudah, dan yang akan ada berasal dari cinta kasih. Manusia yang merupakan ciptaan yang paling mulia hadir ke dunia ini dengan cinta kasih. Cinta kasih akan membuat kita mempunyai komitmen yang penuh terhadap semua pekerjaan dan tanggung jawab yang diberikan, serta menyelesaikannya dengan sempurna.

Suatu hari seorang pria yang berhenti di depan toko bunga untuk memesan karangan bunga yang akan ia kirim ke sang ibu yang tinggal 250 km dari tempat tinggalnya. Ketika keluar dari mobil, ia melihat seorang gadis kecil di trotoar sedang menangis tersedu-sedu. Pria tersebut beranjak mendapati gadis kecil itu dan bertanya mengapa ia menangis.

Si gadis kecil ini menjawab, ”Saya ingin membeli setangkai mawar merah untuk ibu, tetapi uang saya hanya Rp 5.000. Harga setangkai mawar Rp10.000.”

Pria itu tersenyum dan berkata, ”Ayo ikut. Saya akan membelikanmu bunga yang kau mau.” Kemudian pria ini membelikan setangkai bunga sekaligus memesan karangan bunga untuk dikirimkan ke sang ibu. Ketika selesai membayar, pria ini menawarkan diri untuk mengantar gadis kecil pulang ke rumahnya. Gadis kecil itu tersenyum dan menganggukkan kepala. Dan, mereka berdua segera menuju ke tempat yang ditunjukkan si gadis kecil, sebuah komplek pemakaman umum di mana kemudian gadis kecil ini meletakkan setangkai  bunga pada sebuah makam yang masih basah.

Melihat hal ini, hati pria itu tersentuh dan teringat sesuatu. Ia bergegas kembali ke toko bunga dan membatalkan pengirimannya. Lalu ia mengambil karangan bunga yang dipesannya dan segera mengendarai mobilnya sejauh 250 km melaju menuju rumah sang ibu untuk memberikan bunga dengan tangannya sendiri.

 

Kisah sederhana tersebut menyadarkan kita bahwa kasihlah yang membawa pria ini  melakukan yang terbaik, yaitu mil kedua. Kasihlah yang membawa seorang pria menantang hidupnya untuk mendapatkan pujaan hatinya. Kasihlah yang membuat seorang ibu nekad dan penuh keberanian masuk ke dalam kobaran api untuk menyelamatkan bayinya yang tertinggal di loteng rumahnya yang terbakar. Kasih jugalah yang membuat orang melakukan lebih dari hanya sekadar.

Ada banyak orang yang akhirnya sukses karena melakukan sesuatu berdasarkan kasih. Bill Gates, Steven Spielberg, Kolonel Sanders, Ray Kroc, Wright Brother, Ibu Teresa, Abraham Lincoln, Henry Ford, Franklin D. Roosevelt, Hellen Keller, Thomas A. Edison, Mahatma Gandhi, Martin Luther King, Michelangelo, Abraham Lincoln, Soekarno, Hatta, RA. Kartini, dan banyak lagi orang-orang yang luar biasa. Bahkan saya akan kekurangan tempat dan waktu untuk dapat menyebutkan nama-nama yang lain satu per satu. Mereka telah mengabdi dan berlari hingga garis akhir hidupnya dan tetap berada pada mil kedua. Mereka menjadi orang-orang yang terkenal dan dikenal dengan prinsip dan sikap hidup mereka. Mereka memberikan ”harta yang mahal”, sebuah warisan yang lebih bernilai dari emas dan permata bagi generasi saat ini atau yang akan datang.

Warisan-warisan mil kedua inilah yang kita nikmati sebagai percikan-percikan api antusias dalam kehidupan kita. Jangan pernah memadamkan keantusiasme dalam hidup jika tidak ingin menjadi pribadi-pribadi yang padam, suram, dan dingin. Kita membutuhkan kehangatan dan api inspirasi. Buku ini mencoba untuk membuat setiap orang tetap hangat, bahkan terbakar dengan cerita-cerita yang menggugah serta memberi kita inspirasi. Juga, buku ini mencoba menyadarkan kita bahwa masih banyak lilin-lilin yang tetap menyala di tengah dunia yang semakin pudar dan gelap. Warisan-warisan semangat inilah yang akan kita nikmati sebagai terang bagi jalan kita dan pelita bagi kaki kita dalam perjalanan kehidupan.

Sebuah e-mail dari seorang teman memberi tahu saya kisah tentang seseorang yang telah menyelesaikan mil kedua dalam hidupnya. ia yang melakukan kebaikan-kebaikan tanpa pamrih, tanpa syarat, atau tanpa mengharap imbalan. Menurutnya manusia tidak harus mengharapkan imbalan untuk kebaikan yang ia berikan karena ada Tuhan sumber kebaikan yang akan mengganjar dengan kebaikan-Nya yang ajaib. Sebuah pemahaman hukum tabur tuai yang dalam, sebuah pengertian akan kasih Tuhan yang besar.

Howard Kelly—Lunas dengan Segelas Susu Besar

Suatu hari seorang anak lelaki miskin yang hidup dari menjual asongan dari rumah ke rumah menemukan bahwa dikantongnya hanya tersisa beberapa sen uang saja. Saat itu dia sangat lapar. Anak lelaki tersebut memutuskan untuk meminta makanan dari rumah berikutnya, hanya untuk menutupi rasa laparnya. Akan tetapi anak itu kehilangan keberanian saat seorang wanita muda membuka pintu rumah. Ia tidak jadi meminta makanan, tetapi hanya punya keberanian meminta segelas air untuk menghilangkan dahaganya. Ketika melihatnya, wanita muda itu berpikir bahwa anak lelaki tersebut pasti sangat lapar. Oleh karena itu ia membawakan segelas besar susu. Dengan lambat, anak lelaki itu meminumnya dan kemudian bertanya, “Berapa uang yang harus saya bayar untuk segelas besar susu ini?”

Wanita itu menjawab, “Kau tidak perlu membayar apa pun. Orangtua kami mengajarkan untuk tidak menerima bayaran untuk sebuah kebaikan.”

Anak lelaki itu kemudian menghabiskan susunya dan berkata, “Dari dalam hatiku yang paling dalam, saya berterima kasih pada Anda.”

Belasan bahkan puluhan tahun kemudian. Wanita muda ini sudah menjadi tua. Ia  mengalami sakit yang sangat kritis. Para dokter di kota kecil tempat ia tinggal sudah tidak sanggup menanganinya. Mereka akhirnya mengirimnya ke kota besar, di mana terdapat dokter spesialis yang mampu menangani penyakit langka tersebut. Dr. Howard Kelly dipanggil untuk memeriksanya. Saat ia mendengar nama kota asal si wanita tua tersebut, terbersit seberkas pancaran aneh pada mata dokter Kelly. Segera ia bangkit dan bergegas turun melalui ruang rumah sakit, menuju kamar si wanita tua tersebut.    Dengan jubah dokternya, ia menemui wanita tua itu dan langsung mengenalinya dengan pasti pada sekali pandang. Ia kemudian kembali ke ruang konsultasi dan memutuskan untuk melakukan upaya yang terbaik guna menyelamatkan hidup wanita tua itu. Dan, mulai hari itu ia selalu memberikan perhatian khusus pada penanganan wanita tua itu.

Setelah melalui perjuangan yang panjang, akhirnya wanita tua ini disembuhkan. Dr. Kelly meminta bagian keuangan rumah sakit untuk mengirimkan seluruh tagihan biaya pengobatan kepadanya untuk minta persetujuan. Dr. Kelly melihatnya dan menuliskan sesuatu pada pojok atas lembar tagihan, dan kemudian mengirimkannya ke kamar pasien. Wanita tua itu takut membuka tagihan tersebut. Ia sangat yakin tidak akan mampu membayar tagihan pengobatan sekalipun harus mencicil seumur hidupnya.  Akhirnya ia memberanikan diri membaca tagihan dan tulisan di pojok atas lembar tagihan tersebut menarik perhatiannya. Begini isi tulisan itu: “Telah dibayar lunas dengan segelas besar susu. Tertanda, Dr. Howard Kelly.” Air mata kebahagiaan membanjiri mata wanita tua ini. Ia teringat peristiwa beberapa tahun lalu dan kemudian berdoa, “Tuhan, terima kasih. Cinta-Mu telah memenuhi seluruh bumi melalui hati dan tangan manusia.”  Inilah upah pemberian yang lebih dari sekadar memberi.

Saya percaya bahwa kebaikan-kebaikan tidak pernah berutang pada kita. Kebaikan-kebaikan yang kita lakukan akan kembali pada kita karena Tuhan tidak pernah berutang pada kita. Sekecil apa pun kebaikan yang kita lakukan, cepat atau lambat, akan dikembalikan pada kita, bahkan dengan harga yang lebih mahal. Ingatlah setiap kebaikan-kebaikan yang kita perbuat itu seperti memiutangi Tuhan. Jadi, cepat atau lambat semua akan dibayar-Nya melalui ”cek surga”, bisa dalam bentuk harta/uang, kedudukan, pengakuan, pujian, kenangan, atau ”pahala”. Pepatah China mengatakan bahwa kebaikan mendatangkan kebaikan. Jadi mulailah membiasakan diri melakukan perbuatan-perbuatan baik setiap hari, sekecil apa pun itu.

 

”… Tetapi siapa menabur kebenaran, mendapat pahala yang tetap.  Tetapi orang yang menabur kecurangan akan menuai bencana.”

~Nabi Sulaiman

Sebiji benih kebaikan yang kita tanam akan tumbuh menjadi pohon keberuntungan. Sebiji benih keburukan yang kita tanam akan tumbuh menjadi pohon bencana dalam hidup kita. Tanamlah benih itu sekarang agar dapat tumbuh menjadi pohon. Pohon tersebut akan menjadi taman dan taman akan menjadi hutan kebaikan bagi kita; di mana semua orang dapat berteduh dan berlindung di bawahnya, bahkan burung-burung yang hinggap dan bersarang di pohon kebaikan tersebut akan berkicau merdu.

Tidak pernah ada orang yang menabur satu biji jagung dan hanya akan menuai satu biji pula. Tuhan melalui alam akan memberikan orang tersebut ratusan biji jagung (ekstra).  Tuhan tidak pernah memberikan setimpal bagi kita; Ia akan memberi kita bertimpal-timpal (berlimpah-limpah). Setiap biji kebaikan yang kita tabur akan membawa ratusan bahkan ribuan biji kebaikan yang akan kita terima. Inilah yang disebut hukum memberi.   Memberi adalah sebuah keindahan hidup. Memang terkadang terkesan merugikan, tetapi ketika kita memberi ada kebahagiaan yang harganya tidak ternilai. Tentunya memberi tidak selalu dalam bentuk uang dan barang. Senyuman tulus, sapaan ramah, telinga yang mendengar, uluran tangan, pelukan hangat, bahkan pelayanan yang tulus adalah sebuah pemberian. Hanya orang yang memiliki pemahaman rohani dan kehidupan yang baik dapat melakukan semua hal ini. Perusahan atau institusi dunia dihargai karena pelayanannya. Khususnya di bidang jasa keuangan, perusahaan-perusahaan terus melakukan inovasi dan perbaikan dalam pelayanan (service) ke para pelanggan mereka. Perusahaan yang tidak mengembangkan pelayanan ekstra akan tertinggal dan dilupakan orang.

Sekali lagi mil kedua ini berbicara bagaimana kita melakukan segala sesuatu dengan alasan kasih. Tanpa kasih, tidak ada ketekunan, tidak ada daya juang, tidak ada semangat pantang menyerah. Bahkan jika tidak ada kasih, tidak ada kemurnian dan ketulusan. Kasihlah yang memberi hidup makna, nilai, dan keindahan. Dengan kasih kita mengukur segala sesuatu dengan takaran hati, bukan dengan ukuran kemampuan fisik dan kepala (otak). Hanya kasih yang dapat menyentuh kedalaman hati manusia.  Kasihlah yang dapat menginspirasi dan membawa manusia mampu melakukan hal-hal tanpa batas, memungkinkan hal-hal yang tidak mungkin dan sulit. Kasihlah yang telah memampukan kita melompat dari mil pertama ke mil kedua.

Robby—Murid Tanpa Bakat

Saya adalah seorang mantan guru sekolah musik dari Des Moines, Iowa, Amerika Serikat. Selama 30 tahun mengajar piano, selama itu pula saya mengetahui bahwa setiap anak mempunyai kemampuan dan bakat musik yang berbeda. Saya tidak pernah merasa telah berbuat sesuatu yang besar, walaupun telah mengajar beberapa murid yang berbakat. Walaupun banyak murid berbakat yang telah saya ajar, saya ingin bercerita tentang seorang murid yang paling berkesan. Namanya Robby. Robby berumur 11 tahun ketika sang ibu memasukkannya les untuk pertama kalinya.  Sebenarnya, saya lebih suka jika murid saya mulai belajar pada usia yang lebih muda.  Dan, saya menjelaskan hal tersebut kepada Robby. Namun, Robby mengatakan bahwa sang ibu ingin sekali mendengarnya bisa bermain piano. Jadi saya menerimanya sebagai murid, meski dengan sedikit berat hati. Lalu, Robby memulai kursus pianonya. Sejak awal saya berpikir bahwa ia tidak memiliki harapan karena bakatnya yang kurang. Robby mencoba, tetapi memang tidak mempunyai perasaan akan nada maupun irama dasar yang baik. Namun, ia dengan serius mempelajari tangga nada dan beberapa pelajaran awal yang aku wajibkan untuk dipelajari oleh semua murid.

Selama beberapa bulan ia terus mencoba dan saya mendengarkan permainannya dengan ngeri. Namun, saya tetap memberinya semangat untuk maju. Setiap akhir pelajaran mingguannya, dia berkata, ”Ibu pasti akan mendengarkan aku bermain piano pada suatu saat nanti.” Namun, menurut saya rasanya sia sia saja. Ia memang tidak mempunyai bakat. Saya sering melihat ibunya dari jauh, saat menurunkan dan menjemputnya. Ia hanya tersenyum dan melambaikan tangan, tetapi tidak pernah turun.

Pada suatu ketika Robby tidak datang lagi. Saya pernah berpikir untuk menghubunginya, tetapi dalam hati saya berpikir bahwa karena ketidakmampuannya, ia mungkin mengambil kursus bidang lain. Saya juga senang kalau ia tidak datang lagi. Ia menjadi iklan yang buruk bagi tempat kursus piano saya!

Beberapa minggu sesudahnya, saya mengirimkan undangan kepada semua murid, termasuk Robby, mengenai pertunjukkan yang akan kami dilaksanakan. Hal yang membuat saya kaget adalah ketika Robby meminta agar ia dapat ikut bermain dalam pertunjukkan tersebut. Awalnya saya menolak dan mengatakan bahwa pertunjukkan itu hanya untuk murid yang ada sekarang.  Karena sudah keluar, tentu ia tidak dapat ikut serta. Robby mengatakan bahwa ibunya sakit sehingga ia tidak bisa mengantarnya ke tempat kursus, tetapi dia tetap terus berlatih di rumah. “Bu Honford, tolonglah… aku ingin ikut bermain!” ia meminta dengan memelas. Saya tidak tahu hal apa yang membuat saya akhirnya mengizinkannya bermain pada pertunjukkan itu. Mungkin karena kegigihannya atau mungkin ada suara yang berkata dalam hatiku bahwa permainannya akan baik-baik saja.

Tibalah malam saat pertunjukkan itu berlangsung. Aula pertunjukan dipenuhi orangtua, teman, dan relasi. Saya meletakkan Robby di urutan terakhir sebelum giliran saya maju untuk berterima kasih dan memainkan bagian terakhir. Saya yakin bahwa Robby akan membuat kesalahan dan saya akan menutupinya dengan permainan saya.

Pertunjukkan itu berlangsung tanpa masalah. Murid-murid telah berlatih dan hasilnya baik. Lalu tibalah giliran Robby naik ke panggung. Bajunya kusut dan rambutnya berantakan. “Mengapa dia tidak berpakaian seperti murid lainnya?” pikir saya,”mengapa ibunya tidak menyisir rambutnya dengan rapi, setidaknya untuk malam ini?”

Robby menarik kursi piano dan mulai bermain. Saya terkejut saat ia menyatakan akan memainkan Mozart concerto #21 pada Cmajor. Jarinya lincah di atas tuts piano, bahkan menari dengan gesit. Ia berpindah dari pianissimo ke fortissimo, dari allegro ke virtuoso.  Akord gantung yang diinginkan Mozart sangat mengagumkan ia mainkan! Saya tidak pernah mendengar lagu Mozart dimainkan oleh seorang anak seusianya dan sebagus itu!  Setelah enam setengah menit, Robby mengakhirinya dengan crescendo besar dan semua orang terpaku di sana, dengan tepuk tangan yang meriah karena terpukau.  Dengan berurai air mata, saya naik ke panggung dan memeluk Robby dengan sukacita.

“Aku belum pernah mendengarmu bermain seperti itu, Robby! Bagaimana kau dapat melakukannya?”

Melalui pengeras suara Robby menjawab, ”Ibu Guru, ingatkah saat aku mengatakan bahwa ibuku sakit? Ya, sebenarnya ia sakit kanker dan telah meninggal dunia pagi ini. Dan, sebenarnya… ia juga tuli sejak lahir. Jadi hari inilah ia pertama kali mendengar aku bermain piano dan aku ingin bermain secara khusus.”

Tidak seorang pun yang matanya kering malam itu. Ketika orang-orang dari panti sosial membawa Robby dari panggung ke ruang pemeliharaan dan penampungan, saya menyadari bahwa meskipun mata mereka merah dan bengkak, betapa hidup saya jauh lebih berarti karena telah mengambil Robby sebagai murid. Tidak, saya tidak pernah menjadi penolong baginya. Namun, malam itu saya menjadi orang yang ditolong oleh Robby. Dialah guru dan sayalah muridnya karena Robbylah yang mengajarkan saya arti mil kedua, mil di mana kita melakukan sesuatu berdasarkan cinta kasih.

Kasihlah yang telah membuat Robby bermain lebih dari sekadar bermain. Robby bermain pada mil kedua. Saya yakin apa pun yang kita lakukan hari ini akan menghasilkan suatu karya yang luar biasa jika ada kasih di sana. Kasihlah yang dibaca dan didengar oleh banyak orang, bukan sekadar kemampuan atau performa. Jika kita melakukan dengan penuh kasih, para malaikat surga akan menjadi pengiring permainan kita sehingga apa yang orang dengar bukan permainan kita sendiri, tetapi permainan malaikat.

Saya teringat bagaimana Paganini, salah seorang maestro biola, mengalami masalah dalam pertunjukkannya. Di tengah konsernya, tiba-tiba salah satu senar biolanya putus. Kemudian senar lainnya ikut putus dan hanya tinggal satu senar saja di biolanya. Sebagai seorang maestro, ia sebenarnya agak gugup. Namun, dengan luar biasa Paganini tetap dapat menguasai panggung dan tetap bermain. Para penonton menyadarinya, mulai berdiri dan bertepuk tangan. ”Hebat… hebat..!”

Setelah tepuk tangan meriah riuh memujanya, Paganini kemudian meminta mereka  kembali duduk. Paganini memberikan hormat kepada penonton dan meminta dirigen orkestra terus melanjutkan permainan. Paganini kemudian melanjutkan permainannya untuk menuntaskan bagian akhir lagunya. Para penonton pun terkagum-kagum dengan kejadian ini. Bagaimana Paganini bisa melakukan? Saya yakin sama seperti Robby, setiap penonton lebih menangkap suara cinta daripada suara biola tersebut. Cinta jugalah yang telah membuat Robby dan Paganini terus menyelesaikan permainannya tanpa takut akan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang menimpa mereka. Cintalah yang telah mengaransemen lagu mereka sehingga menghasilkan keindahan suara dan harmoni. Hanya keindahan cinta yang akan memuaskan dahaga telinga kita. Tanpa cinta musik hanya menghasilkan suara tanpa makna.

Perjalanan mil kedua ini tidak mudah. Batu-batu terjal, semak belukar, tebing, dan bukit akan terus menantang. Namun, ketahuilah bahwa kenikmatan perjalanannya akan mengatasi semuanya. Keindahan-keindahan itu akan memberikan tenaga baru bagi perjalanan mil kedua kita. Kenikmatan dan keindahan akan kita alami jika kita memenuhi hati dengan gairah—gairah untuk memberi yang terbaik kepada Tuhan.  Banyak dari kita hidup dengan mati-matian, tetapi sesunguhnya telah kehilangan gairah. Jadi, jangan sampai seperti penulis anonim berikut ini yang menyadarinya arti kehidupan ketika segala sesuatunya sudah terlambat.

Awalnya aku mati-matian ingin menyelesaikan SMA dan mulai masuk kuliah.

Lalu aku mati-matian ingin menyelesaikan kuliah dan mulai bekerja.

Lalu aku mati-matian ingin menikah  dan mendapatkan anak.

Lalu aku mati-matian ingin anak-anakku sekolah dan berhasil.

Lalu aku mati-matian ingin pensiun….

Sekarang aku hampir mati dan tiba-tiba aku sadar bahwa aku lupa untuk hidup.

 

Banyak orang telah menyesali kehidupannya. Mereka hanya menyelesaikan perjalanan hidupnya tanpa memperoleh esensi kehidupan dan kehilangan kebahagiaan. Hidup terlalu singkat dijalani. Untuk itu kita sebaiknya hidup lebih dari sekadar hidup dengan menikmati dan merasakan keindahan yang ada di dalamnya.

Menjalani prinsip 2nd mile akan membuat kita menjadi pribadi yang berbeda dan dicari di dunia ini. Ini karena kita akan menjadi pribadi yang memberi melampaui harapan orang-orang yang ada di sekitar kita. Pelayanan hotel-hotel berbintang memahami hal ini.  Mereka tidak hanya memberi apa yang para pelanggan harapkan, tetapi melampaui apa yang diharapkan. Prinsip ini akan membuat kita menjadi pribadi yang bernilai  dan tak terlupakan. Orang sukses adalah orang yang biasa mempraktikkan kebiasaan menempuh mil ekstra dengan menunjukkan pelayanan yang lebih banyak dan lebih baik, lebih dari bayaran yang mereka terima. Sependapat dengan hal ini, Gary Ryan Blair mengatakan, ”Lakukan lebih baik dari yang diminta. Apa yang membedakan antara orang yang mencapai tujuan dengan orang yang hanya menghabiskan hidup dan kariernya dengan hanya mengekor? Mil extra.” Second mile, enjoy it!

social position

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *